Posted by
Raha
In:
Cerita,
Pendidikan
UN dan sekolah kami
Ngga kerasa, UN udah 2 minggu lewat.
Yang terasa adalah segenap rasa deg-degan yang menggelora di raga. (Hak, cuih...)
Tapi itu ngga sepenuhnya terjadi di diri saya.
Jujur, ngga tau kenapa saya merasa lebih rileks kalo dibanding sama UN waktu saya SMP. Kenapa ya? Oia, mungkin gara2 berbagai ketidakproseduralan UN di sekolah.
Betapa bersyukurnya saya ketika tahu sekolah kami -- untuk taun ini -- ngga "silang" sama Krida lagi. Phew... untungnya. Soalnya gimana kami mau "gotong-royong" kalo yang ngawasi kami pas UN itu adalah hantu-hantu mengerikan yang bersarang di tempat sakral bernama Krida. Selain itu, ketidaktegasan pengawas, pihak kepolisian dan pengawas independen pas ngawasin kami bikin kami secara "leluasa" bergotongroyong-ria dalam ngisi soal-soal UN.
Ya ampun, saya segitu beraninya ya ungkapin semua kebobrokan yang berkenaan dengan UN ini. Lantas mau gimana lagi coba? Sistem UN ini udah terlalu rusak buat dijadikan sistem kelulusan.
Sistem UN ini terlalu memaksakan kehendak pemerintah yang semena-mena. Berbagai kecurangan diindikasi melibatkan oknum guru. Itu juga benar. Guru matematika saya VS setiap hari selama UN terus mengirimi teman saya RR, SMS jawaban -- yang hampir semuanya bener.
Saya pikir, ini bukanlah serta-merta kesalahan guru saya yang -- saya tau -- menyalahi prosedur itu. Ini kan implementasi dari kebijakan pemerintah yang namanya UN itu. Siswa dan guru akhirnya semakin tertekan dan akhirnya cuma berorientasi untuk bisa sekedar lulus walau dengan cara seperti itu sekalipun.
Karena gimanapun UN ini ngga adil. Teman saya, MM yang notabene pinter banget matematikanya malah nangis pas abis UN matematika. Pula, teman saya IS yang notabene pinter fisika juga ngalamin hal yang sama pas UN fisika. Tapi, temen-temen yang agak kurang sih cenghar-cenghar aja tuh.
Timbul pertanyaan kan?
UN ini udah samasekali ngga nyari yang cerdas. UN ini cuma nyari yang cerdik.
Saya kira, UN ini harus segera dihapuskan. Atau seengganya diformat ulang.
Yang terasa adalah segenap rasa deg-degan yang menggelora di raga. (Hak, cuih...)
Tapi itu ngga sepenuhnya terjadi di diri saya.
Jujur, ngga tau kenapa saya merasa lebih rileks kalo dibanding sama UN waktu saya SMP. Kenapa ya? Oia, mungkin gara2 berbagai ketidakproseduralan UN di sekolah.
Betapa bersyukurnya saya ketika tahu sekolah kami -- untuk taun ini -- ngga "silang" sama Krida lagi. Phew... untungnya. Soalnya gimana kami mau "gotong-royong" kalo yang ngawasi kami pas UN itu adalah hantu-hantu mengerikan yang bersarang di tempat sakral bernama Krida. Selain itu, ketidaktegasan pengawas, pihak kepolisian dan pengawas independen pas ngawasin kami bikin kami secara "leluasa" bergotongroyong-ria dalam ngisi soal-soal UN.
Ya ampun, saya segitu beraninya ya ungkapin semua kebobrokan yang berkenaan dengan UN ini. Lantas mau gimana lagi coba? Sistem UN ini udah terlalu rusak buat dijadikan sistem kelulusan.
Sistem UN ini terlalu memaksakan kehendak pemerintah yang semena-mena. Berbagai kecurangan diindikasi melibatkan oknum guru. Itu juga benar. Guru matematika saya VS setiap hari selama UN terus mengirimi teman saya RR, SMS jawaban -- yang hampir semuanya bener.
Saya pikir, ini bukanlah serta-merta kesalahan guru saya yang -- saya tau -- menyalahi prosedur itu. Ini kan implementasi dari kebijakan pemerintah yang namanya UN itu. Siswa dan guru akhirnya semakin tertekan dan akhirnya cuma berorientasi untuk bisa sekedar lulus walau dengan cara seperti itu sekalipun.
Karena gimanapun UN ini ngga adil. Teman saya, MM yang notabene pinter banget matematikanya malah nangis pas abis UN matematika. Pula, teman saya IS yang notabene pinter fisika juga ngalamin hal yang sama pas UN fisika. Tapi, temen-temen yang agak kurang sih cenghar-cenghar aja tuh.
Timbul pertanyaan kan?
UN ini udah samasekali ngga nyari yang cerdas. UN ini cuma nyari yang cerdik.
Saya kira, UN ini harus segera dihapuskan. Atau seengganya diformat ulang.
This entry was posted on 01.53
and is filed under
Cerita
,
Pendidikan
.
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
Posted on
-
0 Comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar